• MIN 1 TANGGAMUS
  • Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Tanggamus

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU KELAS DALAM MENYUSUN INSTRUMEN PENILAIAN PEMBELAJARAN MELALUI PENERAPAN SUPERVISI AKADEMIK

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU KELAS DALAM

MENYUSUN INSTRUMEN PENILAIAN PEMBELAJARAN MELALUI PENERAPAN SUPERVISI AKADEMIK

(Penelitian Tindakan Sekolah di MIN 1 Tanggamus Kecamatan Kotaagung

Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2024/2025)

 

KUSAIRI

MIN 1 Tanggamus

 

ABSTRAK

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti, terdapat temuan masalah dalam penyusunan Instrumen penilaian yang dialami oleh guru kelas MIN 1 Tanggamus. Soal tes yang dibuat guru masih belum memenuhi kriteria penyusunan Instrumen penilaian hasil belajar secara lengkap dan baik. Oleh karena itu dibutuhkan solusi pemecahan masalah tersebut, salah staunya dengan mengoptimalkan supervisi kepala sekolah. Dengan adanya supervisi dari kepala sekolah, guru akan terbantu untuk menyusun Instrumen penilaian pembelajaran siswa, dengan sungguh- sungguh, dan sebaik mungkin. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan sekolah, dengan subjek penelitian guru kelas MIN 1 Tanggamus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan guru kelas dalam penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran siswa yang dilakukan melalui supervisi kepala madrasah tersebut. Hasil nilai Instrumen penilaian (soal tes) yang disusun oleh guru kelas dimulai pra siklus, siklus kesatu sampai ke siklus kedua. Kemampuan guru kelas dalam menyusun Instrumen penilaian berdasarkan data yang diperoleh pada pra siklus nilai rata-rata komponen pelaksanaan proses pembelajaran indikator keberhasilan yang dicapai baru sebesar 56.16%, kemudian pada siklus kesatu nilai rata- rata komponen pelaksanaan proses pembelajaran naik menjadi 74.36% dan pada siklus kedua naik menjadi 85,03%. Pelaksanaan supervisi akademik kepala madrasah dalam membina guru untuk meningkatkan kemampuan menyusun Instrumen penilaian hasil belajar siswa, sangat membantu guru dalam menyusun soal tes hasil belajar. Sebab dalam supervisi ini kepala madrasah melakukan pembinaan kepada guru untuk berlatih menyusun soal tes belajar sampai guru benar-benar paham dan cakap dalam membuat soal tes hasil belajar siswa.

Kata Kunci : Instrumen Penilaian, Supervisi Akademik

Penilaian atau evaluasi pembelajaran merupakan bagian yang sangat penting dari sebuah proses pembelajaran, oleh karena itu penilaian dalam proses pembelajaran hendaknya dirancang dan dilaksanakan oleh guru. Dengan melakukan penilaian ketika melaksanakan proses pembelajaran, guru dapat mengetahui tingkat keberhasilan proses pembelajaran dan akan memperoleh bahan masukan untuk menentukan langkah selanjutnya. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor

20 Tahun 2007 dinyatakan bahwa penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar siswa. Sementara itu Furqon (1999) menyatakan bahwa penilaian sebagai salah satu komponen utama proses pembelajaran harus dipahami, direncanakan dan dilaksanakan dalam upaya mendukung keberhasilan peningkatan mutu proses pembelajaran.

Penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik dapat menggunakan berbagai teknik penilaian, yaitu berupa tes, observasi, penugasan baik secara perseorangan ataupun secara kelompok, dan atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan siswa. Sementara itu dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 disebutkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran, penilaian merupakan salah satu unsur penting yang wajib dikuasai oleh seorang pendidik dalam melaksanakan tugasnya di sekolah.

Dalam pembelajaran, evaluasi adalah proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok, sedangkan penilaian adalah semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok (Mardapi, 2008). Rangkaian kegiatan evaluasi antara lain penyusunan Instrumen ukur/soal, menilai dan mengevaluasi proses dan hasil belajar serta menganalisis hasil penilaian pembelajaran.

 

Hasil yang baik hanya mungkin diperoleh dengan proses yang baik. Demikian juga dengan hasil belajar yang baik, hanya akan diperoleh dari proses pembelajaran yang baik. Untuk mengetahui baik atau belum baiknya hasil belajar, diketahui melalui evaluasi proses pembelajaran melalui kegiatan pengukuran hasil belajar yang disebut dengan ujian atau tes. Untuk maksud ini diperlukan Instrumen ukur yang juga harus baik, karena hasil yang akan diperoleh juga tergantung kepada baik atau belum baiknya Instrumen ukur (perangkat tes/soal) yang digunakan. Apabila Instrumen ukur yang digunakan sudah lebih baik, maka informasi- informasi yang diperoleh juga akan lebih tepat untuk melaksanakan tindak lanjut.

Pembinaan kemampuan guru dalam penyusunan soal tes hasil belajar di MIN 1 Tanggamus sejauh ini secara kuantitas sudah cukup memadai. Banyak kegiatan telah dilakukan untuk mengembangkan kompetensi guru sehubungan dengan penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran siswa baik kolektif maupun individu. Kegiatan kolektif itu misalnya pembinaan dalam pelaksanaan KKG di gugus, bimbingan teknis penilaian dalam KTSP, atau bimbingan penyusunan ujian akhir sekolah yang rutin dilaksanakan setiap semester. Begitu juga bimbingan individu, misalnya pada saat supervisi kunjungan kelas, supervisi klinis, monitoring ujian dan lain-lain. Sudah cukup banyak pengalaman yang diberikan kepada guru untuk meningkatkan kompetensinya merencanakan evaluasi.

Namun demikian secara kualitas apa yang diharapkan dari seorang guru terampil menyusun soal untuk pengukuran hasil belajar peserta didik, masih jauh dari harapan. Fenomena yang terjadi di MIN 1 Tanggamus yang merupakan sekolah tempat peneliti bertugas sebagai kepala sekolah, kemampuan guru kelas dalam menyusun Instrumen penilaian masih rendah. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti melalui supervisi, soal yang dibuat guru masih belum memenuhi kriteria penyusunan soal tes hasil belajar secara lengkap. Oleh karena itu peneliti memandang perlu melakukan pembinaan khusunya kepada guru kelas MIN 1 Tanggamus dalam menyusun Instrumen penilaian (soal tes) yang baik dalam arti memenuhi kriteria Instrumen penilaian yang dapat mengukur tingkat pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, berdasarkan panduan yang diberikan oleh BSNP dalam penilaian pelaksanaan pembelajaran.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, solusi yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu melakukan penelitian melalui supervisi kepala madrasah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun Instrumen penilaian atau Instrumen evaluasi pembelajaran, dengan judul: Meningkatkan Kemampuan Guru Kelas dalam Menyusun Instrumen Penilaian Pembelajaran dengan Melaksanakan Supervisi Kepala Sekolah (Penelitian Tindakan Sekolah di MIN 1 Tanggamus Kecamatan Kotaagung Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2024-2025).

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas permasalahan yang diangkat dalam penelitian tindakan sekolah ini dirumuskan dalam rumusan masalah “apakah pelaksanaan supervisi madrasah oleh kepala madrasah dapat meningkatkan kemampuan guru kelas MIN 1 Tanggamus Kecamatan Kotaagung dalam menyusun Instrumen penilaian pembelajaran?

  1. Penilaian Pembelajaran

Penilaian hasil belajar antara lain menggunakan tes untuk melakukan pengukuran hasil belajar siswa. Sudijono (2009:66) mendefinisikan tes sebagai alat atau prosedur yang dipergunakan untuk pengukuran atau penilaian untuk memperoleh informasi tentang atribut pendidikan, psikologik atau hasil belajar yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.

Definisi ini menjelaskan fungsi tes sebagai instrumen sistematis untuk mengukur variabel-variabel tertentu, seperti tingkat pemahaman siswa, kemampuan kognitif, atau karakteristik psikologis lainnya, dengan hasil yang dapat dinilai secara objektif berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Mardapi (2008: 5) menyatakan bahwa, penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan instrumen test maupun non- test. Penilian dimaksudkan untuk memberi nilai tentang kualitas hasil belajar.

 

Dalam pelaksanaan penilaian pembelajaran dilakukan melalui langkah- langkah atau tahapan-tahapan, seperti yang dikemukakan oleh Sudijono (2009: 59) tahapan dalam penilaian yaitu: (1) penentuan tujuan, (2) menentukan desain evaluasi, (3) pengembangan instrumen evaluasi, pengumpulan informasi/data, analisis dan interpretasi dan tindak lanjut.

  1. Teknik dan Instrumen Penilaian Pembelajaran

Kewajiban guru untuk memahami teknik penilaian tercermin dalam Standar Penilaian Pendidikan. Dari sembilan kegiatan penilaian hasil belajar oleh pendidik, tiga diantaranya menyebutkan tentang teknik penilaian, yaitu: (1) mengembangkan indikator pencapaian CP dan memilih teknik penilaian yang sesuai pada saat menyusun silabus mata pelajaran, (2) mengembangkan instrumen dan pedoman penilaian sesuai dengan bentuk dan teknik penilaian yang dipilih, dan (3) melaksanakan tes, pengamatan, "penugasan", dan/atau "bentuk lain" yang diperlukan. Di dalam Permendiknas Nomor 20 Tahun 2008 (Depdiknas, 2008) tentang Standar Penilaian Pendidikan bagian C (Teknik dan Instrumen Penilaian) dinyatakan hal-hal terkait teknik penilaian sebagai berikut:

  • penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik;
  • teknik tes berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja;
  • teknik observasi atau pengamatan dilakukan selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran;
  • teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek.

Dalam Pedoman Penilaian Hasil Belajar (Direktorat Pembinaan TK dan SD,  Depdiknas, 2007: 10-24) dinyatakan bahwa teknik penilaian hasil belajar dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu teknik tes dan teknik nontes.

  1. Persyaratan Tes

(Instrumen Penilaian) yang Baik

Karena pentingnya kegunaan penilaian baik bagi siswa, guru, maupun sekolah maka selayaknya dalam melaksanakan penilaian itu harus digunakan Instrumen penilaian atau tes yang baik. Menurut Sudijono (2009:93-98) bahwa tes yang baik mempunyai ciri-ciri antara lain: (1) memiliki validitas yang baik yaitu Instrumen tes tersebut dapat mengukur keberhasilan belajar peserta didik secara tepat, benar, atau shahih setelah mereka menempuh proses belajar dalam waktu tertentu; (2) bersifat reliable atau memiliki reliabilitas, artinya bahwa bila Instrumen tes tersebut digunakan berulang kali terhadap subjek yang sama senantiasa menunjukan hasil yang sama atau sifatnya ajeg atau stabil kapan saja, atau dimana saja, dan oleh siapa saja tes itu dilaksanakan diperiksa atau dinilai; (3) diskriminatif (daya pembeda) daya pembeda soal dapat memberikan gambaran tentang kemampuan butir-butir soal membedakan antara mereka yang berkemampuan tinggi dengan yang berkemampuan rendah; (4) Obyejtif, suatu tes harus bersifat obyektif, artinya di dalam proses pelaksanaan dan penilaiannya tidak terdapat faktor subyektif yang mempengaruhi. Ini berarti bahwa pendapat pemeriksa tes tidak berpengaruh pada pemberian skor, dengan kata lain diperiksa oleh siapapun, tes itu akan memberikan skor yang sama.

  1. Pengertian Supervisi Pendidikan

Supervisi pendidikan atau akademis menitikberatkan pada pengamatan supervisor terhadap kegiatan akademis, berupa pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Istilah "supervisi" berasal dari Bahasa Inggris, supervision, yang terdiri dari dua akar kata, yaitu super dan vision.

  • Super berarti "atas" atau "lebih".
  • Vision berarti "melihat", "menilik", atau "mengawasi".

Secara etimologis, supervisi dapat diartikan sebagai kegiatan "melihat dari atas", yang menyiratkan posisi seseorang yang berkedudukan lebih tinggi (supervisor) mengawasi atau meninjau pekerjaan orang lain (bawahan) untuk tujuan perbaikan atau pembinaan.

Dengan pengertian itulah maka supervisi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pengawas dan kepala 

madrasah sebagai pejabat yang berkedudukan di atas atau lebih tinggi dari guru untuk melihat dan mengawasi pekerjaan guru. Arikunto (2004:

4) mengemukakan bahwa supervisi merupakan peningkatan makna dari inspeksi yang berkonotasi mencari-cari kesalahan. Jelaslah bahwa kesan seperti itu sangat kurang tepat dan tidak sesuai lagi dengan jaman reformasi seperti sekarang ini. Supervisi adalah kegiatan mengamati, mengidentifikasi mana hal yang sudah benar, mana yang belum benar, dan mana pula yang tidak benar, derngan maksud agar tepat dengan tujuan memberikan pembinaan.

Dengan berpijak pada batasan pengertian tersebut maka sedikitnya ada tiga fungsi supervisi, yaitu (1) sebagai kegiatan menigkatkan mutu pembelajaran, (2) sebagai pemicu atau penggerak terjadinya perubahan pada unsure-unsur yang terkait dengan pembelajaran, dan (3) sebagai kegiatan memimpin dan membimbing.

 

METODE

Dalam pelaksanaan penelitian tindakan sekolah yang menjadi subjek adalah guru kelas sebanyak 6 (enam) orang guru. Pengambilan subjek penelitian ini hanya mengambil enam guru kelas. Sedangkan waktu pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan pada pada bulan September sampai bulan November 2024 semester ganjil tahun Pelajaran 2024-2025.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan sekolah (PTS), dengan pendekatan kualititatif. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dipaparkan secara deskriptif dengan membandingkan kondisi sebelum tindakan dengan setelah tindakan dilaksanakan. Menurut Suhardjono tujuan utama PTS adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di sekolah yang berada dalam binaan kepala madrasah ´ Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan.

Penelitian ini dilakukan dengan prosedur penelitian meliputi: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan, dan (4) refleksi terhadap hasil pengamatan 

tindakan. Siklus kegiatan penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.1.

 

Gambar 4.1. Siklus Penelitian Tindakan Sekolah Model Spiral Kemmis dan Mc.Taggart (Suhardjono, 2008).

 

HASIL

  1. Pra siklus

Berdasarkan data hasil observasi pada pra siklus dalam menilai Instrumen penilaian yang dibuat oleh guru, hasilnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Penilaian komponen menyusun spesifikasi tes (K.1), indikator keberhasilan penelitian mencapai rata-rata 46,67%. Kemampuan guru dalam menyusun Instrumen penilaian berdasarkan indikator keberhasilan yang dicapai oleh guru menunjukan bahwa kemampuan guru dalam menyusun Instrumen penilaian masih kurang.
  2. Penilaian komponen menyusun kisi-kisi, indikator keberhasilan penelitian mencapai rata-rata 55,83%. Persentase tersebut sudah masuk kategori “cukup” namun demikian perumusan soal tes masih belum sesuai dengan tujuan pembelajaran, masih ada beberapa guru kelas yang tidak mencantumkan pokok bahasan dan sub pokok bahasan, kemudian dalam penentuan indikator dengan soal masih belum sesuai, serta belum menentukan jumlah soal tiap bahasan (tidak seimbangnya jumlah tes untuk setiap aspek hasil belajar).
  3. Penilaian komponen menentukan bentuk tes (soal tes bentuk soal uraian objektif dan non-objektif, dan soal tes pilihan ganda (tes objektif)), besar persentase rata-ratanya 61,67%. Persentase keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa indikator keberhasilan K.3 dapat dikategorikan “cukup”.
  4. Penilaian komponen menentukan panjang tes, besar persentase indikator keberhasilan komponen Instrumen penilaian yang dibuat guru rata-ratanya 60,28%, dapat dikategorikan “cukup”.
  5. Penilaian komponen menulis soal tes pilihan ganda, besar persentase keberhasilan guru mencapai rata-rata 55,33% dapat dikategorikan “kurang”
  6. Penilaian komponen menulis soal tes bentuk soal uraian objektif dan non- objektif, besar persentase rata-ratanya 49,33%, atau masih dalam kategori

 

  1. Siklus I

Pada siklus I kemampuan guru kelas dalam menyusun Instrumen penilaian pembelajaran sudah ada peningkatan dibandingkan dengan pra siklus, dengan pencapaian keberhasilan rata-rata sebesar 74,36%. Nilai rata-rata yang diharapkan dari setiap siklus harus lebih dari 80.00% untuk seluruh komponen penilaian. Berdasarkan nilai indikator keberhasilan tersebut dapat diasumsikan bahwa kemampuan guru (subjek penelitian) dalam menyusun Instrumen penilaian pembelajaran termasuk dalam kategori ”cukup”. Target pencapaian indikator keberhasilan dalam penelitian ini belum tercapai.

 

  1. Siklus II

Pada Siklus II kemampuan guru kelas dalam menyusun Instrumen penilaian pembelajaran pada siklus kedua sudah ada peningkatan dibandingkan dengan hasil yang dicapai pada siklus kesatu. Pencapaian keberhasilan rata-rata kemampuan guru dalam menyusun Instrumen penilaian sudah mencapai 85.03%. Nilai rata-rata yang diharapkan dari setiap siklus harus lebih dari 80.00% untuk seluruh komponen penilaian. Berarti indikator keberhasilan dalam penelitian ini sudah tercapai. Kemampuan guru (subjek penelitian) dalam menyusun Instrumen penilaian pembelajaran dapat dikatakan “baik” dan pencapaian indikator keberhasilan dalam penelitian ini sudah tercapai, karena secara keseluruhan rata-rata nilai Instrumen penilaian yang dibuat guru sudah mencapai rata-rata lebih dari 80.00%.

PEMBAHASAN

Pada siklus kesatu kemampuan guru dalam menyusun Instrumen penilaian sudah ada peningkatan, hal ini dapat dilihat dari persentase nilai rata-rata Instrumen penilaian pembelajaran pada pra siklus yang baru mencapai 56.16% dan pada siklus kesatu 74.36%. Berarti ada peningkatan sebesar 18.20%. Namun demikian target pencapaian indikator keberhasilan penelitian yang sudah ditentukan belum tercapai. Dari analisis yang dilakukan peneliti berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil observasi pada siklus kesatu, temuan hasil penelitian tentang kemampuan guru MIN 1 Tanggamus dalam penyusunan Instrumen penilaian sebagai berikut:

  • Penilaian komponen menyusun spesifikasi tes, besar persentase rata- ratanya 64.67% berarti belum mencapai target yang diharapkan, dan belum satupun guru yang mencapai indikator keberhasilan dalam komponen ini. Dalam menyusun Instrumen penilaian komponen spesifikasi tes yang terdiri dari lima aspek, soal tes yang disusun oleh guru sudah ada kesesuaian antara SK dan CP terhadap subtansi soal tes walaupun masih ada beberapa yang kurang sesuai, selain itu Instrumen penilaian yang dibuat hampir mencakup seluruh indikator yang diharapkan. Pada merumuskan soal tes sesuai dengan kelengkapan cakupan materi sudah ada peningkatan. Dalam rumusan soal tes mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor guru mengalami kesulitan dalam menentukan soal-soal yang termasuk pada aspek afektif dan psikomotor, hal ini disebabkan rumitnya memilah tingkatan hasil belajar siswa pada aspek apektif dan psikomotor yang harus diukur. Dalam menenukan spesifikasi soal mudah, sedang, dan sukar pada siklus kesatu sudah ada peningkatan dibandingkan sebelumnya, namun masih perlu ditingkatkan dalam membagi persentase banyak soal untuk tiap-tiap spesifikasi tersebut yaitu idealnya soal mudah 30.00%, soal sedang 50.00%, dan soal sukar 20.00%. 
    • Penilaian komponen menyusun kisi-kisi, baru satu orang yang mencapai indikator keberhasilan untuk komponen ini. Besar persentase rata-ratanya yang dicapai oleh seluruh guru baru mencapai 74.17%. Hal ini disebabkan subjek penelitian dalam merumuskan soal tes masih ada beberapa soal yang belum sesuai dengan tujuan pembelajaran, selain itu dalam membuat daftar pokok bahasan masih ada yang kurang lengkap.
    • Dalam komponen menentukan bentuk tes secara keseluruhan sudah mencapai indikator keberhasilan yaitu 81.67%. Dari enam subjek penelitian sudah ada empat orang guru yang mencapai indikator keberhasilan dalam komponen ini.
    • Dalam komponen menentukan panjang tes, besar persentase yang diperoleh sudah mencapai 80.67% berarti sudah mencapai target yang diharapkan. Secara perorangan guru yang sudah mencapai indikator keberhasilan ada empat orang. Namun demikian secara individual subjek penelitian dalam membuat panjang kalimat pada tiap soal masih ada yang berbeda-beda, dan waktu yang disediakan dengan jumlah soal tes yang dibuat pun masih belum sesuai.
    • Dalam komponen menulis soal tes pilihan ganda, besar persentase yang diperoleh baru mencapai 71.67%, target yang diharapkan belum tercapai. Secara perorangan guru yang sudah mencapai indikator keberhasilan ada dua orang. Hal ini disebabkan jawaban tes masih menunjukan jawaban benar, kemudian belum mengurutkan pilihan jawaban angka, selain itu pilihan jawaban masih belum logis, dan letak jawaban yang benar belum disusun secara acak.
    • Dalam komponen menulis soal tes bentuk soal uraian objektif dan non- objektif, besar persentase yang diperoleh belum mencapai target yang diharapkan, rata-rata nilai yang dicapai baru 73.33%. Secara perorangan belum satupun guru yang mencapai indikator keberhasilan. Hal ini disebabkan masih ada beberapa pertanyaan yang membingungkan siswa, masih ada kalimat yang tidak sesuai dengan tingkatan perkembangan peserta didik, dan masih ada penggunaan bahasa dalam soal yang belum jelas.

    Berdasarkan masalah-masalah yang ditemukan pada siklus kesatu, peneliti melakukan pembinaan/bimbingan kepada setiap guru kelas (subjek penelitian) untuk memperbaiki penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran dengan melakukan pertemuan secara kelompok dan membimbing guru secara perorangan waktu pelaksanaannya berdasarkan jadwal yang dibuat. Setelah mendapatkan pembinaan dari peneliti, hasil penilaian rata-rata pada siklus kedua seluruh guru yang dijadikan subjek penelitian telah mencapai indikator keberhasilan yang telah ditentukan. Dan dilihat dari persentase keberhasilan setiap komponen yang dinilai dalam penyusunan Instrumen penilaian pada siklus kedua juga telah mencapai indikator keberhasilan penelitian ini. Secara terperinci dapat dipaparkan sebagai berikut:

a. Persentase rata-rata pada siklus kedua dilihat dari nilai keberhasilan penelitian ini telah mencapai rata-rata 85,03%. Ini berarti telah melampaui target minimal 00%.

b. Pencapaian rata-rata untuk tiap komponen yang awalnya hanya dua komponen yang tercapai, pada siklus kedua nilai rata-rata seluruh komponen (100.00%) telah tercapai,

c. Begitu pula nilai yang dicapai oleh guru yang awalnya pada siklus kesatu hanya satu orang guru yang mencapai indikator keberhasilan, pada siklus kedua sudah semua guru (100.00%) mencapai indikator keberhasilan penelitian dalam meningkatkan kemampuan guru untuk menyusun Instrumen penilaian

  • Dengan demikian penelitian tindakan sekolah ini telah berhasil dan dapat dijadikan rujukan bagi peneliti lain untuk meningkatkan kemampuan dalam penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran.

    Peningkatan kemampuan guru kelas MIN 1 Tanggamus yang dijadikan subjek penelitian berdasarkan persentase nilai rata- rata yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 4.5

  • Tabel 4.5
    Rekapitulasi Nilai Rata-rata Penyusunan
    Instrumen Penilaian Pembelajaran
    Pada Pra Siklus, Siklus Kesatu Dan Siklus Kedua
  • No

    Subjek Penelitian

    Siklus

    Pra (%)

    Kesatu

    Kedua

    1

    Rosilawati, S.Pd.I

    54,94

    71,94

    87,83

    2

    Zainani, S.Ag

    53,17

    73,17

    82,78

    3

    Yulaili, S.Pd.I

    63,89

    81,78

    92,17

    4

    Salamah, S.Pd.I

    60,38

    77,94

    86,00

    5

    Eka Efrida, S.Pd

    55,33

    70,44

    80,83

    6

    Zuraida, S.Pd.I

    49,33

    70,89

    80,56

    Rt

    54,33

    56,16

    85,03

Pada siklus kedua penelitian ini sudah dianggap berhasil, karena kemampuan guru dalam menyusun Instrumen penilaian (soal tes) berdasarkan nilai yang diperoleh sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya. Secara keseluruhan rata-rata komponen penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran pada siklus kedua sudah mencapai 85,03%. Nilai perolehan tersebut sudah melewati nilai yang ditergetkan yaitu 80,00%.

Peningkatan kemampuan setiap guru yang dijadikan subjek penelitian ini dalam penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran dilihat pada Grafik 4.5.

Grafik 4.5 : Peningkatan Kemampuan Guru dalam Penyusunan Instrumen penilaian Pembelajaran Pada Pra Siklus, Siklus Kesatu Dan Siklus Kedua.

Peningkatan nilai rata-rata kemampuan guru kelas MIN 1 Tanggamus yang dijadikan subjek penelitian pada pra siklus, siklus kesatu, dan siklus kedua dapat digambarkan dalam Grafik 4.6.

Grafik 4.6 : Peningkatan Nilai Rata-rata Penyusunan Instrumen Penilaian Pembelajaran Pada Pra Siklus, Siklus Kesatu Dan Siklus Kedua

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dalam upaya meningkatkan kemampuan guru kelas dalam penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran, hasilnya dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Kondisi awal kemampuan guru kelas MIN 1 Tanggamus yang dijadikan subjek penelitian dalam penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran siswa sebelum dilakukan supervisi akademik oleh kepala madrasah masih sangat rendah. Nilai rata- ratanya baru mencapai 56.16%.
  2. Proses pelaksanaan supervisi oleh kepala madrasah dalam meningkatkan kemampuan guru kelas di MIN 1 Tanggamus dalam penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran siswa dilakukan selama dua siklus. Dalam prosesnya menempuh langkah-langkah atau prosedur penelitian tindakan sekolah yang dimulai langkah perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Supervisi yang dilakukan pengawas dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan guru penjasorkes dalam penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran siswa yang sesuai dengan BNSP.
  3. Hasil peningkatan kemampuan guru kelas dalam penyusunan Instrumen penilaian pembelajaran siswa di MIN 1 Tanggamus setelah dilakukan supervisi akademik oleh kepala madrasah mengalami peningkatan yang cukup bai Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi dimulai pra siklus sampai ke siklus kedua. Pada pra siklus nilai rata-rata komponen Instrumen evaluasi pembelajaran siswa sebesar 56.16%, kemudian pada siklus kesatu nilai rata-rata komponen Instrumen evaluasi pembelajaran siswa naik menjadi 74.36% dan pada siklus kedua naik menjadi 85,03%.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2004). Dasar-dasar Suvervisi.

Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas (2001) Kamus Besar Bahasa

Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Depdiknas (2007). Permendiknas Nomor 20

tentang Penilaian Pendidikan.

Jakarta.

Depdiknas (2007). Permendiknas Nomor 41 tentang Standar Proses Pendidikan

Mardapi, D. (2008). Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes. Jogjakarta: Mitra Cendikia Press.

  1. PP. Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar

Nasional Pendidikan.

Purwanto. N. (2008). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.

Sudijono, A. (2009). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Suhardjono. (2008). Menyusun Usulan Penelitian. Jakarta: Makalah Disajikan pada Kegiatan Pelatihan Tehnis Tenaga Fungsional Pengawas.

Tim Redaksi Nuansa Aulia. (2008). Undang- undang Nomor 14 Tahun 205 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Nuansa Aulia.

Undang-undang Republik Indonesia, (2003).

Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

Usman, U. (9199). Menjadi Guru Profesional. Edisi Kedua. Bandung: Penerbit Remaja Rosdakarya.

Wardani, dkk. (2010). Instrumen Penilaian Hasil Belajar Nontes dalam Pembelajaran Matematika. Jakarta: PMPTK.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
MENYEMAI ADAB DAN KECERIAAN DI SEMESTER BARU

Oleh : Sundusiah. Bapak dan Ibu Guru Madrasah Ibtidaiyah yang saya banggakan, Sebagai pengawas, saya sering merenung: Apa sebenarnya yang paling dirindukan oleh anak-anak kita setelah

29/12/2025 13:35 - Oleh Admin - Dilihat 174 kali
MENEMUKAN KEMBALI ESENSI HARI IBU 2025

Setiap tanggal 22 Desember, lini masa kita mendadak penuh dengan foto-foto lama. Ada yang mengunggah foto masa kecil bersama ibu, ada yang memamerkan buket bunga cantik, dan tak sedikit

23/12/2025 07:11 - Oleh SUNDUSIAH - Dilihat 64 kali
Konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Implementasinya di Madrasah Oleh: Sundusiah

Pembelajaran Mendalam (PM) atau Deep Learning dalam konteks pendidikan adalah sebuah pendekatan revolusioner yang mentransformasi fokus belajar dari sekedar menghafal dan mengejar nilai

21/11/2025 21:10 - Oleh Admin - Dilihat 85 kali
Membangun Fondasi Literasi yang Menyenangkan Oleh: Sundusiah

Literasi membaca merupakan kunci utama dalam proses belajar dan pengembangan diri anak. Tantangan terbesar yang dihadapi seringkali terletak pada bagaimana guru dapat mengubah kegiatan

11/11/2025 13:20 - Oleh Admin - Dilihat 56 kali